Hari
menunjukkan jam 18.00, seluruh mahasiswa mengakhiri kegiatan perkuliahan pada
hari itu. Dewi Lestari, mahasiswi jurusan Teknik Sipil yang cantik namu
pendiam. Dia adalah seorang sekretaris dikelasnya. Saat itu memang cuaca sedang
dalam keadaan yang tidak bersahabat. Langit mendung, menandakan bahwa sebentar
lagi akan turun hujan. Kilat mulai menyambar sembari bunyi guruh yang semakin
bersahutan. Saat itu hanya dia yang belum keluar dari bengkel teknik.
Awalnya
semua terasa baik – baik saja. Namun ketika hendak mengunci pintu bengkel, dia
mendengar mesin gergaji terdengar menyala. Dewi kebingungan, ia yakin bahwa ia
telah mematikan seluruh aliran listrik. Ia berjalan ke depan suatu ruangan kecil
yang tidak boleh dibuka oleh siapapun. Ia kembali mendengar suara mesin
tersebut menyala. Tetapi kali ini berbeda, terdengar suara tangisan perempuan
yang menjerit minta tolong. Saking takutnya, Dewi pergi meninggalkan ruangan
tersebut.
Keesokan
harinya, ada dosen tamu yang datang untuk mengajar dikelas itu. Dia mengajarkan
tentang penggunaan mesin gergaji. Ketika dosen sedang menjelaskan, Dewi merasa
ingin sekali membuka ruangan yang kemarin terdengar suara dari ruangan
tersebut. Namun ketika ia memegang gagang pintu tersebut dosen itu langsung
berteriak “JANGAN DIBUKA!!!” teriak dosen tersebut.
Lalu Dewi
kembali kebarisannya. Namun ia merasa sangat tidak sehat, tiba – tiba kakinya
gemetar, mukanya pucat, persis seperti mayat. Dan Dewi langsung tergeletak di
tengah – tengah barisan. Seluruh mahasiswa kebingungan. Ternyata Dewi
kesurupan, seketika dosen yang sedang mengajar langsung kaget dan ingin
meninggalkan ruangan tersebut. Saat ia hendak pergi, Dewi berteriak, “ MAU
KEMANA KAU HARIS!!!” suara dewi terdengar lebih berat dari biasanya.
“siapa kamu?!” tanya Pak Haris
“Kamu tak ingat aku?!!, aku mati bersama calon anakmu di kamar itu!!” jawab Dewi
semua mahasiswa menoleh ke ruangan tersebut.
“siapa kamu?!” tanya Pak Haris
“Kamu tak ingat aku?!!, aku mati bersama calon anakmu di kamar itu!!” jawab Dewi
semua mahasiswa menoleh ke ruangan tersebut.
“Risa?! Itu kamu?!” kaget Pak Haris
“kamu telah mebuat aku sengsara Haris!! Takkan ku biarkan kau hidup tenang!” ancam Risa.
“baik, akan ku kuburkan kau dengan layak.” Jawab Haris
Dewi pun kembali sadar. Pak Haris menjelaskan, bahwa dia telah membunuh kekasihnya saat ia masih kuliah. Karena ia tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan kekasihnya itu. Di ruangan tersebut terdapat mesin gergaji yang ia gunakan untuk membunuh Risa bersama mayat Risa yang hanya ia kubur menggunakan pasir. Dan dengan bantuan seluruh mahasiswa kelas itu, mereka menguburkan Risa dengan layak. Dan Pak Haris harus ditahan oleh polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
SEKIAN
“kamu telah mebuat aku sengsara Haris!! Takkan ku biarkan kau hidup tenang!” ancam Risa.
“baik, akan ku kuburkan kau dengan layak.” Jawab Haris
Dewi pun kembali sadar. Pak Haris menjelaskan, bahwa dia telah membunuh kekasihnya saat ia masih kuliah. Karena ia tidak ingin bertanggung jawab atas kehamilan kekasihnya itu. Di ruangan tersebut terdapat mesin gergaji yang ia gunakan untuk membunuh Risa bersama mayat Risa yang hanya ia kubur menggunakan pasir. Dan dengan bantuan seluruh mahasiswa kelas itu, mereka menguburkan Risa dengan layak. Dan Pak Haris harus ditahan oleh polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
SEKIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar